MEMBUKA KABUT TIRAI BAMBU
Oleh: Fadjar Pratikto*
Menjelang diselenggarakannya Olimpiade Beijing 2008, keadaan hak asasi manusia di China kembali disorot. Sebelumnya pasca pembantaian mahasiswa di lapangan Tiananmen pada 4 Juli 1989 silam, kondisi HAM di negeri itu sempat menjadi perhatian dunia.[1] Terakhir penganiayaan terhadap pengikut Falun Gong yang masih berlangsung hingga sekarang menunjukan bahwa rejim komunis China belum berubah. Watak kejahatannya terhadap kemanusiaan selalu muncul disaat partai yang berkuasa itu mengalami krisis politik.
Ketika China diberi kepercayaan untuk menyelenggarakan Olimpiade pada tahun 2001, rejim komunis China telah berjanji akan memperhatikan catatan HAM-nya yang buruk. Komitmen ini diperlukan mengingat pertandingan Olimpiade selama ini, mengedepankan keharmonisan kekuatan fisik dan kekuatan mental. Dalam Piagam Olimpiade secara jelas disebutkan bahwa tujuan dari pesta olah raga ini adalah untuk menempatkan olahraga pada pengembangan keharmonisan manusia, dengan maksud menggalakkan kepedulian pada masyarakat yang cinta damai dengan menjaga martabat kemanusiaan dan perdamaian.[2]
Realitasnya, sikap rejim komunis China belum berubah. Amnesty International (AI) dalam laporannya terbaru menunjukan raport HAM-nya masih banyak merahnya. Dengan alasan stabilitas untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya yang tinggi, penguasa negara itu menindas rakyatnya, melanggar HAM, serta menutupi fakta yang sebenarnya terjadi. Organisasi HAM dunia ini juga menghimpun sejumlah catatan pelangggaran hak-hak sipil dan hak-hak poilitik di China dalam laporannya yang diberi judul “China: menghitung mundur Olimpiade – satu tahun menjelang dipenuhinya janji hak azasi manusia.”
Laporan itu mengakui bahwa beberapa kemajuan dicapai dengan telah dilakukannya reformasi atas prosedur hukuman mati agar tidak lagi sembarangan dan pemberian kebebasan yang lebih besar bagi wartawan asing yang sedang meliput Olimpiade. Tetapi juga ditekankan bahwa pemerintah masih terus melakukan penahanan aktivis hak asasi manusia tanpa lewat pengadilan.[3]
Meskipun mulai ada kebijakan kebebasan pers asing untuk meliput persiapan Olimpiade sejak Januari 2007, namun janji untuk menjamin pelaksanaan HAM dengan regulasinya ternyata hanya sebagai pemanis belaka, dan menipu komunitas internasional. Reporters Without Border yang berbasis di Paris itu mengatakan bahwa China masih tetap mengekang kebebasan pers dan memenjarakan wartawan, aktivis dan penentang politik yang menerbitkan pemikirannya via internet. Mereka yang sempat ke Beijing menuntut pembebasan wartawan, membuka akses website dan menghentikan gangguan siaran radio, justru ditangkap.[4]
Pada 30 Mei 2007 lalu, Koalisi untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong (CIPFG) telah mengajukan tiga tuntutan yang tidak direspon penguasa China. Tuntutan itu adalah; membebaskan semua praktisi Falun Gong yang dipenjara; mengakhiri semua tindakan represif terhadap orang-orang yang mendukung dan membela pengikut Falun Gong, seperti pengacara Gao Zhisheng dan Li Hong; dan mengizinkan suatu penyelidikan independen atas dugaan perdagangan organ ilegal di China. Karena tak direspon, CIPFG bersama para aktivis HAM dunia telah memulai gerakan Obor HAM Estafet Global supaya komunitas internasional menaruh perhatian terhadap buruknya kondisi HAM di sana.[5]
Di luar CIPFG, saat ini sejumlah lembaga dan organisasi internasional telah menekan pemerintah China untuk memperbaiki dirinya sebelum Olimpiade Beijing. Ada kelompok penyayang binatang, asosiasi wartawan lintas batas, konsumen dll. Taiwan bahkan mengancam akan memboikot Olimpiade jika China tetap mengklaim negara itu sebagai propinsinya. Duta Besar UNHCR Mia Farrow juga melakukan kegiatan Obor Estafet melalui negara-negara yang pernah mengalami genosida, dan secara khusus mendesak Pemerintah China, tuan rumah Olimpiade 2008, agar membantu mengakhiri pelanggaran HAM di Darfur, Sudan.
Berikut sepuluh alasan mengapa kita perlu bersama-sama mendesak penguasa komunis China untuk memperbaiki kondisi nasionalnya menjelang pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008.
I. Menindas Agama/Keyakinan
Selama ini kita menyangka sikap rejim komunis China terhadap kaum agamawan sudah berubah. Di kota-kota besar didirikan banyak tempat ibadah dari berbagai agama. Lebih megah lagi tempat ibadah yang terdapat di sejumlah kota pesisir yang maju pesat dibidang ekonomi. Realitasnya itu hanyalah sebuah “etalase” untuk mempercantik diri dihadapan investor asing, sebab agama dan kepercayaan masyarakat masih dikontrol secara ketat. Semua kegiatan keagamaan harus tunduk dibawah lembaga agama yang dikendalikan partai. Dua tahun lalu, telah diinstruksikan “pembersihan” secara periodic terhadap aktivitas keagamaan.
A. Kristen Katolik
Sejak akhir tahun 1980-an, setidaknya 2,7 juta diantara 60 juta pengikut Kristen Family Church telah ditahan, dan 440 ribu dihukum kerja paksa dan pendidikan kembali. Bahkan lebih dari 10 ribu disiksa hingga mati, lebih dari 20 ribu menjadi cacat. Angka statistik yang konservatif tersebut dikumpulkan sejak musim gugur tahun 2000, ketika lebih dari 20 ribu penganut Kristen memulai penyelidikan terhadap lebih dari 560 ribu orang anggota Kristen Family Church di 207 kota besar dan kecil di 22 propinsi di Daratan China.
Christian Solidarity Worldwide melaporkan bahwa gereja-gereja menangis karena di China tidak ada kebebasan beragama. Penangkapan terhadap penganut dan pemimpin agama Kristen sering kali disertai dengan penyiksaan. Para korban menceritakan, bagaimana penyiksaan yang dialaminya, seperti dipukuli dengan tongkat, digantung dari atap dan diikat dalam posisi yang sangat menyakitkan. Ratusan orang Kristen ditahan di kamp-kamp kerja paksa, dan sebagian dibebaskan bila mereka dapat membayar denda yang sangat tinggi.[6]
Selain penyiksaan, komunis China juga menyeret para pemimpin gereja ke pengadilan. Komisi HAM PBB melaporkan pada 29 Desember 2001, lima anggota gereja di China selatan diberitakan dihukum mati oleh Pengadilan di Kota Jingmen dengan tuduhan menyebarkan “ajaran sesat” dan melanggar hukum. Penghancuran terhadap gereja-gereja juga sering dilakukan, terutama di wilayah China tenggara. Menurut data yang ada, selama tahun 2000 telah dihancurkan sebanyak 450 tempat ibadah yang “tidak memiliki izin”.
Dua tahun lalu, Yayasan Kardinal Kung di Beijing mengumumkan adanya penangkapan terhadap Uskup Julius Jia Zhiguo (70) dari rumahnya di utara kota Zhengding pada 9 Nopember 2005. Uskup yang memiliki sekitar 12 juta pengikut di China ini ditangkap karena menolak menjadi bagian dari Perhimpunan Patriotik Katolik, yang dikontrol oleh partai. Tiga tahun lalu, setidaknya delapan pastor dari Gereja Katolik Roma ditangkap di China. Dan, masih banyak lagi kasus pelanggaran kebebasan berkeyakinan lainnya yang terjadi.[7]
Penganut Katolik juga dipaksa bergabung dalam ‘Perhimpunan Patriotik’, perkumpulan gereja yang dikendalikan oleh partai. Gereja ini tidak mengakui Paus (Pope) sebagai pimpinan. Tetapi karena banyak warga merasa terkekang, mereka mendirikan gereja ilegal yang mengakui kepemimpinan Paus. Hanya saja mereka harus merayakan misa secara diam-diam. Sebagian besar umat Kristen China terdaftar sebagai anggota ‘Perhimpunan Patriotik’, tetapi aktif di gereja bawah tanah. Ini bukan tanpa risiko, karena berulang kali anggota gereja bawah tanah ditangkap dan dipenjarakan, sering tanpa alasan yang jelas. Banyak uskup gereja bawah tanah itu ditangkap, dikenakan tahanan rumah, bahkan sampai disiksa.[8]
B. Kaum Tibetan
Laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Tibetan Centre for Human Rights and Democracy yang berjudul “Human Rights Situation in Tibet” menunjukan masih banyaknya penangkapan terhadap penduduk Tibet (Kaum Tibetan). Selama tahun 2006, didokumentasikan adanya penangkapan terhadap 26 aktivis Tibetan, dan diketahui ada sekitar 116 yang ditahan.[9] Sejak China menguasai Tibet tahun 1951, ribuan warga termasuk biksu ditahan.
Laporan Asia Calling dari Lhasa, Tibet pada 9 April 2007 lalu menunjukan kehidupan agama di sana masih terkekang. Mereka ditangkap hanya karena mengungkapkan aspirasi politik dan agama mereka dengan damai. Kuil-kuil Budha di Tibet juga kesulitan memperoleh dana operasi dan izin pemerintah. Para pemimpin Budha harus mencari dukungan untuk mempengaruhi kebijakan Beijing terhadap pemimpin spiritual, Dalai Lama.
Meskipun Dalai Lama menerima konsep pemerintahan otonomi Tibet dibawah Beijing, pemerintah Cina masih meragukan dirinya. Keadaan itu membuat Dalai Lama bersama para pendukungnya saat ini tetap tinggal di Dharmasala, India. Sebaliknya pemerintah Cina malah menunjuk anak lain yang sedang belajar di Beijing sebagai Panchen Lama kesebelas. Dengan penunjukan Pancen Lama diharapkan penguasa China mendapatkan legitimasi dari masyarakat Tibet. Asia Calling menyebutkan, Tibet masih menyimpan rasa takut dan ketidakpastian.[10]
Keadaan Tibet yang represif, membuat banyak warganya yang hendak melarikan diri ke luar negeri. Awal Februari 2007 lalu, seorang pemuda warga Tibet lolos dari tahanan tentara China. Pemuda tersebut merupakan salah satu dari 30 warga tibet yang ditahan tentara China karena berupaya keluar dari daratan China. Jamyang Samten (15), nama pemuda itu, menjadi saksi kekejaman tentara China saat dirinya berada dalam tahanan. Lebih dari 75 warga Tibet, menurut Jamyang, saat itu tertangkap tentara China karena berupaya keluar dari daratan. Selama dalam tahanan, warga Tibet tersebut mengalami perlakuan kerja paksa.[11]
Sikap China terhadap Tibet nampaknya sudah final. Karena itu momentum setahun menjelang Olimpiade di Bejing digunakan oleh Tibetan untuk menuntut pembebasan daerahnya. Sekitar 20.000 orang dari berbagai belahan dunia termasuk pemimpin Tibet pengasingan, berkumpul di pusat kota New Delhi, India untuk menggelar demonstrasi pada 8 Agustus 2007 lalu. Mereka menyerukan dibebaskannya Panchen Lama, serta diadakannya dialog damai antara pemimpin China dan Dalai Lama, dan dibentuknya daerah otonomi Tibet.[12]
C. Muslim Uyghur
Laporan Human Rights Watch (HRW) dan Human Rights in China tahun lalu menyebutkan penguasa China telah menumpas kaum muslim Uyghurs. Penumpasan itu dilakukan dengan alasan kontra terorisme dan anti separatisme. Tindakan itu dilakukan di wilayah Xinjiang yang berpenduduk 19 juta orang, dimana terdapat lebih dari setengah populasi Uyghurs. Penindasan itu dilakukan dengan cara memanggil imam dan menutup mesjid sampai pada hukuman mati ribuan orang setiap tahun. Disebutkan hampir setengah tahanan di kamp pendidikan ulang, dianggap sebagai pelaku kegiatan keagamaan secara gelap.[13] Terakhir, polisi Cina menewaskan 18 orang dalam serangan terhadap warga Xinjiang pada awal tahun ini.[14]
Asia Calling, menyebut perkembangan agama Islam di propinsi Xinjiang dikendalikan secara ketat. Isu terorisme pun dihembuskan untuk mengendalikan wilayah itu. Analis dan kelompok Hak Azasi Manusia mengatakan, Beijing menggunakan ‘Perang Melawan Terorisme’ yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk memperketat kendali di wilayah itu. Langkah tersebut berhasil membatasi kegiatan separatis, tetapi juga menciptakan lebih banyak ketegangan etnis.
Pada tahun 2002, “Gerakan Islam Turkistan Timur” dicap sebagai kelompok teroris. Sejak itu, warga Muslim tidak diperbolehkan menghadiri sekolah agama atau datang ke mesjid sampai umur 18 tahun. Kegiatan dan ekspresi agama dilarang ketat di sekolah negara. Anak-anak sekolah tidak diperbolehkan berdoa, memakai pakaian atau simbol agama, serta berpuasa di bulan Ramadhan. Pejabat pemerintah memantau mesjid dengan ketat serta memilih pemimpin agama secara hati-hati. Pemerintah Cina beralasan kontrol itu penting untuk mencegah dukungan terhadap kaum ekstrimis, separatis dan teroris di wilayah itu.[15]
Sebelumnya pernah terjadi peristiwa pembantaian di Gulja, Xinjiang pada 5 Februari 1997 silam. Menurut Amnesty International, saat itu ratusan bahkan mungkin ribuan orang tewas dan terluka saat polisi membubarkan massa di kota itu. Peristiwa ini pada 6 Februari 2007 lalu, diperingati warga muslim Uighur di AS dengan melakukan aksi damai di depan kantor kedutaan besar China di Washington DC. Dalam aksi itu, seorang pemimpin Uyghur di pengasingan, Rebiya Kadeer menyatakan pemerintah China masih menindas. Kadeer menuding pemerintah China telah melakukan “pemusnahan budaya” terhadap Uyghur, karena berambisi menguasai kekayaan energi dan mineral di bagian barat Xinjiang.[16]
II. Membunuh Pengikut Falun Gong
Sebanyak 20 praktisi Falun Gong yang tewas akibat penindasan, telah dikonfirmasikan pada bulan Juni 2007. Empat belas praktisi meninggal dunia antara Januari-Juni 2007. Empat belas praktisi yang meninggal adalah wanita, merupakan 70 persen keseluruhan kematian.
Sejak rejim Komunis China dan Kelompok Jiang Zemin melancarkan penindasan terhadap Falun Gong pada 20 Juli 1999, sedikitnya 3.062 praktisi Falun Gong yang meninggal dunia di China telah diverifikasi. Jumlah kematian itu bisa lebih besar mengingat selama ini penguasa setempat sangat lihai dalam menutupi informasi, dan mengendalikan media. Utusan khusus PBB Manfred Nowak juga melaporkan pada Maret 2007 bahwa sebanyak 66 persen praktisi Falun Gong menjadi korban dugaan penyiksaan hingga tewas.
Praktisi Falun Gong dianiaya dan dipaksa diasingkan; mereka secara tidak sah dipecat dari pekerjaan atau diusir dari sekolah; keluarga mereka dibinasakan; mereka memikul berbagai siksaan termasuk penyalahgunaan psikiatris, serangan seksual, dan pencucian otak; serta sejumlah orang terbunuh saat pengambilan organ – semuanya dikarenakan keteguhan mereka yang percaya pada “Sejati-Baik- Sabar” dan menuntut hak mereka menjadi orang baik.[17]
Lebih mengerikan, sejak Maret 2006, para saksi telah tampil menunjukan bukti bahwa rejim komunis telah membangun kamp-kamp konsentrasi ala Nazi-Hitler untuk menahan ratusan ribu praktisi Falun Gong. Disitulah, organ mereka mereka diambil dalam keadaan hidup; setelah itu jenazah mereka dikremasi. Pengambilan organ mencapai puncaknya pada tahun 2003. Setelah 2003, kekejaman ini dilakukan tersembunyi dan masih terus berlangsung. Kejahatan ini ditutupi dan dilindungi oleh sistem hukum di China. Institusi transplantasi organ didalam sistem militer dicurigai ikut berperan serta dalam kejahatan kemanusiaan ini.
Laporan yang diterbitkan pada Juli 2006 dan Januari 2007 oleh pengacara HAM Kanada David Matas, dan mantan Sekretaris Negara urusan Asia-Pasifik David Kilgour, telah memperkuat dugaan pengambilan organ tersebut.[18] Pada 14 April 2007, Abraham L. Halpern, MD, Profesor Emeritus (Psikiatri) dari New York Medical College mendesak The World Medical Association, supaya segera menagmbil sikap atas pengambilan organ praktisi Falun Gong di China, dan memulai tindakan untuk menyelamatkan banyak jiwa di China.[19]
Kini, penguasa China bahkan telah mengintensifkan penganiayaan terhadap Falun Gong hingga Olimpiade 2008. Menteri Keamanan Zhou Yongkang mengeluarkan perintah untuk melancarkan tahap penindasan yang diperluas sehingga terjadi penangkapan praktisi secara besar-besaran. Pada Maret 2007 lalu, aparat keamanan memperkuat tekanan secara nasional, serta mengakibatkan penggerebekan dan penahanan dalam skala besar.[20]
Berdasarkan hasil penyelidikan Organisasi Dunia untuk Penyelidikan Penindasan terhadap Falun Gong (WOIPFG – World Organization ot Investigate the Persecution of Falun Gong) belum lama ini menunjukkan bahwa pengambilan organ terhadap praktisi Falun Gong masih berlangsung di China meski belum lama ini penguasa China telah melarang transplatasi organ ilegal. Praktisi Falun Gong yang ditangkap secara ilegal dan menolak memberi namanya adalah korban dari kejahatan ini (Mereka menolak memberi tahu namanya karena takut keluarganya dan tempat kerjanya menjadi sasaran intimidasi kepolisian).
Hal itu bisa dilihat dari bukti-bukti rekaman yang dilakukan oleh WOIPFG yang terbaru. Para penyelidik dari lembaga itu menghubungi penjual pasar transplantasi ginjal untuk Rumah Sakit Tentara Pembebasan Rakyat China 307. Keseluruhan investigasi berlangsung beberapa minggu dan total pembicaraan telepon kira-kira satu jam. WOIPFG memiliki rekaman dan transkripsi dari pembicaraan telepon. Hasilnya memperkuat dugaan bahwa praktisi Falun Gong adalah salah satu korban dalam pengambilan organ.[21] Penganiayaan terhadap Falun Gong merupakan bencana HAM terburuk yang sekarang ini terjadi di China.
III. Menekan Aktivis HAM
Menjelang Olimpiade, LSM internasional maupun domestik masih menghadapi tekanan dan pembatasan yang semakin meningkat. Menurut sumber internal dari Departemen Kepolisian Daerah Otonomi Uyghur – Xinjiang, pejabat teras telah mengeluarkan perintah yang menyatakan bahwa hingga tibanya penyelenggaraan Olimpiade, polisi perlu “lebih ketat memperlakukan” orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan penguasa. Tindakan perampasan tanah dan pengusiran paksa oleh pemerintah China untuk alasan-alasan pengembangan ekonomi dan persiapan Olimpiade telah memicu ribuan protes.
Sejumlah aktivis HAM dan pengacara juga menjadi sasaran penindasan penguasa. Pengacara terkenal, Gao Zhisheng sudah setahun menjalani hukuman tahanan rumah.[22] Selama ini, peraih penghargaan tahunan HAM Asia Pasifik 2006 versi Human Rights Watch Charitable Trust ini memang aktif memperjuangkan keadilan rakyat miskin dan kebebasan berkeyakinan. Bersama koleganya, Chen Guangcheng dan Guo Feixiong yang juga meraih penghargaan serupa, mereka berani menghadapi resiko intimidasi dan ancaman kematian. Dua tahun lalu, ijin pengacaranya dicabut karena pembelaannya pada kaum papa. Sebelumnya Gao juga pernah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden China Hu Jintao, mendesak diakhirinya pelanggaran HAM yang dialami praktisi Falun Gong.[23]
Di luar mereka, sejumlah tokoh pembela HAM mulai bermunculan belakangan ini seperti Guo Guoting, Zhu Jiuhu, Li Jianqiang, Guo Feixiong, dan Chen Guangcheng. Tampil juga sejumlah kaum intelektual seperti Professor Jiao Guobiao yang berani mengkritisi kebijakan penguasa komunis China, adalah salah satu bukti adanya kesadaran sosial.
Tahun lalu, polisi menangkap seorang aktivis HAM saat melakukan aksi mogok makan untuk meminta perhatian atas pelanggaran hukum di China. Guo Feixiong, yang juga dikenal sebagai Yang Maodong, baru saja dibebaskan dari penjara Guangzhou, Cina selatan, karena membantu penduduk Desa Taishi untuk melengserkan pejabat lokal yang dituduh korupsi. Saat Guo mengawali aksi mogoknya di Gerbang Xinhua, Beijing, ia langsung ditangkap. Guo mengaku sering dipukuli polisi dan penjahat bayaran di masa lalu terkait dengan aktivitas.[24]
IV. Mengekang Kebebasan Pers
Kebebasan pers merupakan salah satu barang yang langka di negeri China. Sistem totaliter yang sangat represif membuat semua media harus tunduk di bawah kendali partai. Semua pemberitaan harus sejalan dengan garis politiknya, yang disensor oleh Departemen Propaganda. Selain sejumlah media cetak dan elektronik yang didirikan partai untuk menyokong propaganda, pengendalian secara ketat pun dilakukan terhadap media swasta. Pers bak macan ompong yang tak memiliki gairah lagi untuk menyuarakan kebenaran.
Sikap represif juga dilakukan terhadap wartawan yang berani mengungkap borok penguasa China. Di tengah padang tandus itu, ada segelintir penerbitan yang berani membela kebenaran. Tahun lalu, BBC melaporkan kasus pemecatan Yang Bin, pemimpin redaksi The Beizing News, bersama dua editor seniornya.. Selama ini, koran ini telah menerbitkan berita yang cukup kritis terhadap pemerintah setempat.[25] Seorang jurnalis juga dipukul hingga meninggal ketika sedang meliput penambangan ilegal di Kota Daton, Shanxi pada 9 Januari 2007 lalu.[26]
Sejak 16 Desember 2000, lebih dari 90 staf koran Dajiyuan telah menjadi sasaran penyelidikan, dan lebih dari 30 wartawannya ditangkap. Sedikitnya puluhan wartawan Dajiyuan telah dijatuhi hukuman penjara selama 3-10 tahun. Wartawan asing tak luput dari pengendalian. Wartawan BBC di Beijing, Daniel Griffiths melaporkan, selama puluhan tahun wartawan asing terikat pembatasan ketat dalam hal ke mana mereka bisa pergi dan siapa yang bisa diwawancarai. Pada April 2004 lalu, Ching Cheong, koresponden The Straits Times Singapura yang bertugas di Hongkong ditangkap. Ia dituduh sebagai mata-mata.
Tahun 2006 lalu, Organisasi Reporters Sans Frontieres (RSF) yang berkedudukan di Paris melaporkan bahwa kasus penahanan terhadap wartawan sepanjang tahun 2005 paling banyak terjadi di China.[27] Data yang dikumpulkan organisasi reporter Lintas Batas itu menunjukan sampai 1 Januari 2006 lalu, jumlah wartawan yang ditahan di negara komunis itu sebanyak 32 orang. Tidak hanya penahanan, teror juga menghantui para pimpinan media yang mengkritik kebijakan partai. Pembredelan dan penyitaan terhadap media juga biasa dilakukan. Tahun lalu bahkan menurut laporan kantor berita Xinhua, sebanyak 79 surat kabar telah dibrangus, dan 169 juta penerbitan disita.[28] Pada waktu ini, jumlah wartawan yang mendekam di penjara-penjara Cina lebih besar dari negara mana pun juga di dunia.[29]
Lebih aneh lagi, China juga mengekang kebebasan warganya di dunia maya. Penggunaan internet di China dipantau secara ketat oleh polisi cyber yang populer dengan sebutan “The Great Firewall of China”. Satuan polisi ini bertugas memantau dan mensensor kegiatan akses internet selama 24 jam sehari. Untuk kepentingan itu, bahkan mereka membeli saham Yahoo!, Google dan MSN, tiga perusahaan provider internet terbesar di dunia. Dalam versi Mandarin-nya, perusahaan search engine itu menyensor kata-kata yang dianggap ”subversif” seperti demokrasi, kebebasan, korupsi, hak Azasi, Dalai Lama, Falun Gong, dll.[30]
Bahkan Microsoft, perusahaan perangkat lunak terbesar dengan portal internetnya “MSN Spaces” demi kepentingan ekonomi sesaat mematuhi sensor yang diterapkan PKC.[31] Laporan Amnesty International yang berjudul “Undermining freedom of expression in China: The role of Yahoo!, Microsoft and Google” yang dipublikasikan pada Juli 2006 juga menunjukan upaya penguasa China menekan kebebasan informasi/pers melalui internet.[32] Atas perannya itu, kini Yahoo! sedang menghadapi tuntutan hukum di Northern California. Amerika.[33]
Di masa lalu seluruh situs diblokir, namun belakangan ditemukan teknologi yang mampu memblokir bagian-bagian tertentu saja. Untuk membatasi penggunaan internet, Cina disebut-sebut meminta bantuan dari luar negeri, seperti dari Amerika Serikat. Sejumlah laporan mengatakan beberapa perusahaan piranti lunak dari Amerika memasok piranti lunak canggih ke Cina yang berfungsi menyaring internet. Di dalam negeri para provider diharuskan mengawasi situs-situs yang diakses para pelanggan maupun percakapan di ‘ruang ngobrol internet.’[34]
Meski pemerintah China mendorong penggunaan Internet, diberlakukan persyaratan pendaftaran situs yang lebih ketat, meningkatkan kontrol resmi atas kandungan online dan memperluas definisi tentang isi online ilegal. Banyak website-website asing telah dilarang untuk dikunjungi dari dalam negeri. Dan menurut laporan penguasa China mulai menggunakan teknologi yang lebih canggih yang mampu memblokir kandungan tertentu dan bukan keseluruhan situs. Meski demikian, karena kesulitan teknis yang dihadapi oleh penyensoran lengkap, mereka berusaha mengatur Bulletin Board System (BBS). Ditetapkan persyaratan khusus, pemilik BBS akan diminta untuk mendaftar, memberi informasi pribadi.[35]
Mereka juga mengawasi penggunaannya, mengontrol isinya, membatasi informasi dan menghukum yang melanggar. Baru-baru ini dilaporkan seorang cyber dan blogger He Weihua ditahan secara paksa di rumah sakit jiwa hanya gara-gara memposting komentar kritis di blognya www.boxun/ hero/hewh/. Sebelumnya ia pernah disuntik secara paksa oleh anggota Biro Keamanan Negara. di rumah sakit jiwa pada Desember 2004. Bulan September 2006 lalu, ia dicegat sepeda motor, dan diperingatkan untuk tidak meneruskan aktivitas internetnya.[36]
Seorang penulis internet, Du Daobin, sejak bulan Oktober tahun lalu secara resmi dikenai dakwaan subversi setelah menerbitkan 28 artikel di internet yang mengkritik kebijakan pemerintah.[37] Pada 25 Juli 2006 lalu, Century China — sebuah website yang sangat populer ditutup dengan tuduhan melanggar.[38] Saat ini, 50 orang blogger mendekam di penjara, demikian laporan akhir tahun Reporters Without Borders yang dipublikasi awal tahun 2007 ini.[39] Pada akhir Oktober 2006, Amnesty International mengimbau semua blogger di seluruh dunia bersatu memperjuangkan kebebasan blogger di China yang terkekang.[40]
Tidak hanya internet, satelit luar juga dibendung. Belum lama ini, Badan Urusan Radio, Film dan Televisi China bahkan mengeluarkan sebuah perintah kepada seluruh pemerintah daerah untuk melarang program “ilegal” satelit luar. Menurut informasi, TV Satelit Phoenix dari Hongkong yang selama ini dianggap pro Beijing bahkan terdaftar sebagai “ilegal”, dan dilarang di banyak wilayah.[41] Kebijakan ini sepertinya ditujukan secara khusus kepada siaran stasiun televisi berbahasa Mandarin, New Tang Dinasty Television (NTDTV) yang menjangkau seluruh dunia termasuk China, dan ditakuti penguasa China.[42]
China juga memperluas sensor dengan mengawasi pesan tertulis yang dikirim lewat handphone. Sejauh ini, peraturan baru itu hanya digunakan oleh satu dari dua operator telpon genggam di Cina, China Mobile Corporation. Namun, perusahaan itu menguasai 65% pangsa pasar telpon genggam, sehingga peraturan baru ini dipastikan akan menjadi standar.[43]
Lebih memalukan lagi, penguasa China juga berusaha menekan lembaga penyiaran di negara lain untuk menutup jaringan media yang dianggap terkait dengan kelompok tertentu yang menentangnya. Intervensi itu bisa dilihat pada permintaan Kedutaan China di Indonesia kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk memantau isi siaran radio Voice of Hope (Suara Harapan) di Batam. Permintaan itu ditentang oleh sejumlah lembaga, seperti LBH Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pasalnya permintaan tersebut sudah terlampau jauh mencampuri urusan kewenangan lembaga penyiaran Indonesia, serta menyalahi kebebasan pers yang dijamin oleh Undang-Undang Pers di Indonesia.[44]
V. Mengeksploitasi Pekerja/ Anak
Menjelang Olimpiade 2008, China juga dituduh telah mempekerjakan anak-anak. Belum lama ini, Guy Ryder, Sekretaris Jenderal International Trade Union memperingatkan Komite Olimpiade Internasional (IOC – International Olympic Committee) atas kegagalan mereka dalam menyikapi ekspoitasi tenaga kerja, terutama tenaga kerja di bawah umur, yang dipekerjakan membuat cenderamata untuk Olimpiade 2008. Playfair, gabungan serikat pekerja di dunia, mengumumkan terjadi pelanggaran berat terhadap hak pekerja yang dilakukan empat perusahaan China yang ditunjuk membuat cenderamata resmi pesta olahraga dunia di Beijing tahun depan. Para pekerja tersebut diharuskan untuk bekerja sedikitnya 15 jam sehari.
Meski tuduhan seperti ini bukanlah hal yang baru di China, kasus ini agak berbeda. Perusahaan tersebut memiliki lisensi membuat produk bagi Olimpiade Beijing tahun depan. Lekit Stationery, salah satu perusahaan itu telah mengakui menggunakan buruh anak, setelah sebelumnya membantah. Diakui, anak-anak usia 12-13 tahun dipekerjakan oleh salah satu subkontraktornya. Manajer Lekit Michael Lee mengatakan salah satu subkontraktor bernama Leter Stationery mempekerjakan mereka selama musim liburan sekolah musim dingin lalu. Setiap anak dibayar 20 yuan (sekitar Rp20 ribu) per hari. Kabar ini beredar menyusul investigasi di kota Dongguan, tempat yang menjadi basis usaha Lekit.[45]
Kasus perbudakan juga dialami anak-anak di China. Setelah terbongkarnya kasus perbudakan yang melibatkan anak-anak di Henan, Shanxi, polisi China berhasil membongkar praktek perbudakan yang menimpa 217 orang, di mana 29 orang di antaranya masih anak-anak. Mereka dipekerjakan di pabrik-pabrik batu bata. Para pekerja itu dikirim oleh pedagang manusia ke pabrik pembakaran batu bata, namun ketika tiba di sana, mereka dipukul, kelaparan dan dipaksa bekerja dalam waktu yang panjang tanpa dibayar,” ungkap seorang pejabat berwenang Cina seperti dilaporkan Harian Xinhua dan dilansir AFP, Juli lalu.[46]
Versi lain menyebutkan di tempat pembakaran batu bata ilegal di Daerah Hongtong, Provinsi Shanxi itu, ditemukan ribuan anak-anak usia sekolah dipaksa bekerja sebagai budak. Mereka telah bekerja di sana selama tujuh tahun. Para buruh anak di tempat pembakaran batu bata Hongtong dipaksa bekerja selama lebih dari sepuluh jam sehari dengan kondisi buruk.[47] Selain itu, banyak produk China termasuk yang untuk Olimpiade yang dihasilkan dengan menggunakan tenaga kerja paksa dari para narapidana yang ada di dalam penjara dan kamp-kamp kerja paksa, termasuk banyak tahanan ilegal dari praktisi Falun Gong.[48]
VI. Menolak Demokrasi
Seiiring dengan perkembangan ekonomi China yang pesat, dunia berharap banyak akan terjadinya perubahan politik di negeri itu. Sebab selama ini sistem satu partai yang diterapkan oleh rejim komunis China dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Selama ini, PKC memang telah menjadi pemain tunggal dalam percaturan politik nasional, dan sudah pasti tidak mengakui perbedaan pendapat, apalagi kelompok oposisi. Hal itu tentu saja berimplikasi pada kondisi hak asasi di sana yang sangat buruk.
Pasca pembantaian mahasiswa di Lapangan Tianamen, Beijing pada 4 Juni 1989, gerakan demokrasi di China mati suri. Semua elemen demokrasi tiarap, para mahasiswa kembali ke kampus, sebagian harus realitis masuk ke birokrasi pemerintahan. Para pimpinan aktivis mahasiswa yang hengkang ke luar negeri khususnya ke Taiwan dan Amerika Serikat hanya bisa menggalang perlawanan opini dalam skala sangat terbatas. Begitu pula para keluarga korban dalam peristiwa itu yang tergabung dalam Tiananmen Mothers mendapat tekanan kuat.
Belakangan ini muncul fenomena lain yang menarik yakni gerakan demokrasi di tingkat lokal. Berdasarkan data yang ada menunjukan bahwa selama tahun 2004 telah terjadi gerakan massa anti kekerasan berskala besar sebanyak 60 ribu kasus atau rata-rata per hari 164 kasus. Kasus yang sepat menjadi perhatian internasional adalah gerakan demokrasi di Taishi, sebuah desa kecil dengan 2075 penduduk di Selatan China propinsi Guangdong.[49] Sejak Juli 2005, lebih dari 400 penduduk menandatangani petisi untuk menggantikan kepala desa Chen Jinsheng, yang dicurigai telah menggelapkan uang desa. Warga menginginkan kepala desa dipilih langsung oleh mereka sendiri tanpa intervensi partai. Hingga kini, perlawanan rakyat Taishi masih berlangsung meski dihadapi dengan kekerasan.
Kalau melihat peta kekuatan demokrasi di China mungkin terlihat masih lemah. Sejauh ini belum ada sebuah organisasi massa atau partai politik lain di luar PKC yang secara riil memiliki kemampuan mendorong proses demokratisasi secara luas. Disinilah kelihaian rejim komunis China selama 56 tahun berkuasa tanpa memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk bersaing secara sehat menggalang dukungan bagi rakyatnya. Selama itu juga tidak pernah digelar pemilihan umum untuk memilih pemimpinnya secara demokratis. Semua jalur politik dimonopili secara mutlak oleh partai komunis tanpa reserve.
Di luar dugaan, saat ini muncul harapan baru bagi gerakan demokrasi di China sejak diterbitkannya buku Jiuping atau Sembilan Komentar (Mengenai Partai Komunis) oleh koran berbahasa Mandarin Dajiyuan (The Epoch Times) pada akhir 2004 lalu.[50] Bagaikan sebuah kotak Pandora, begitu dibuka muncul alunan musik dan gerakan tarian yang menggelora. Tak lama setelah beredarnya buku Jiuping ke seluruh penjuru dunia khususnya di China, setiap hari puluhan ribu orang secara terbuka mengundurkan diri dari PKC. Kini bahkan jumlah anggota PKC yang sudah mengundurkan diri mencapai sekitar 30 juta orang.
Tekanan itu rupanya belum berpengaruh besar terhadap sikap penguasa China. Presiden China Hu Jintao dalam pidatonya tiga tahun lalu tetap menolak reformasi politik atau demokrasi yang dianggapnya model Barat. Baginya, tidak ada praktek-praktek demokrasi Barat, seperti memisahkan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif dan pemilihan multi-partai, yang akan dilakukan di China. Hu Jintao yang berkuasa sejak 2002, ingin memastikan legitimasi partainya, tapi tidak menunjukkan ketertarikanya memperbaharui politik secara luas.[51]
VII. Memperkeruh Perdamaian Dunia
Setahun lalu, Amnesty Internasional pernah melaporkan bahwa Beijing memperburuk perang dan membantu penindasan dengan menjual senjata serta perlengkapan militer ke negara-negara seperti Sudan, Birma, dan Nepal. China disebutkan sebagai satu-satunya eksporter besar senjata yang tidak menandatangani persetujuan yang mengatur perdagangan senjata. Laporan itu menyebutkan pada tahun 2005, Beijing mengapalkan 200 truk militer China ke Sudan dan negara itu juga membantu junta militer di Birma dengan senjata. Laporan itu juga menuduh China menjual senjata dan granat ke pasukan keamanan Nepal di saat terjadinya pemberontakan masal terhadap monarki oleh warga sipil.[52]
Dalam kasus Sudan, yang dianggap sejumlah kalangan sebagai bencana kemanusiaan pada masa sekarang, lebih dari 200.000 rakyat tewas, dan 2,5 juta orang harus meninggalkan tempat tinggalnya sejak perang saudara berkecamuk di Darfur sejak 2003. Kenyataan tersebut menunjukan bahwa China bukannya membela negara berkembang dalam pengertian mendukung upaya perdamaian dunia, melainkan justru sebaliknya memperkeruh suasana, dengan memasok senjata kepada pihak berwenang Sudan untuk digunakan di Darfur.
Duta Besar UNHCR, Mia Farrow belum lama ini mendesak Pemerintah China, agar membantu mengakhiri pelanggaran HAM di wilayah Darfur, Sudan. Ia mengatakan bahwa minat China yang amat besar akan sumber minyak di Sudan secara efektif menyokong dana bagi berbagai serangan pasukan pemerintah kepada rakyat di Darfur, oleh karena itu dia mendesak China untuk mendorong Sudan agar bekerjasama dengan pasukan penjaga perdamaian. “China akan menjadi tuan rumah Pertandingan Olimpiade 2008 dan slogan mereka adalah ‘Satu Dunia, Satu Mimpi’ tetapi yang ada adalah satu malapetaka – yang China tidak boleh sembunyikan – dan malapetaka itu adalah Darfur,” tandas Farrow.[53]
China juga menegaskan akan terus meningkatkan kekuatan militernya demi tujuan damai, tidak untuk mengancam negara lain. Namun, muncul kekhawatiran di kawasan bahwa militer China berniat menduduki Taiwan, yang selama ini dinilai sebagai wilayah China yang memisahkan diri. Aksi ini jelas akan menimbulkan ketidakstabilan di kawasan. Apalagi Maret lalu, China menyatakan akan meningkatkan anggaran pertahanan dengan 17,8 persen mencapai sekitar 45 miliar dollar AS (sekitar Rp 427,5 triliun) pada tahun ini. Namun, Departemen Pertahanan AS menduga total pengeluaran militer China bisa dua kali lipat dari anggaran itu.[54]
VIII. Parahnya Lingkungan
Berbagai studi dan foto-foto satelit telah membuktikan bahwa Beijing menderita tingkat nitrogen dioksida yang sangat tinggi, amat sangat berbahaya bagi kesehatan para atlet. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa para penonton dan peserta Olimpiade Beijing 2008 akan menghadapi masalah kesehatan serius karena polusi udara di sana. Dr Michal Krzyzanowski dari WHO mengatakan kepada BBC bahwa orang-orang yang memiliki masalah dengan jantung dan jalan pernafasan harus benar-benar memperhatikannya. Dia juga mengatakan kualitas udara kota itu yang buruk bisa memicu serangan asma.
Peringatan itu disampaikan di saat Beijing memulai ujicoba larangan menggunakan mobil selama empat hari yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan meningkatkan kualitas udara. Sebelumnya pemerintah Cina berencana untuk melarang penggunaan mobil selama penyelenggaraan olimpiade tahun depan di Beijing. Selama empat hari ke depan hampir separuh mobil di Beijing tidak boleh dipakai. Jika rencana ini dinyatakan berhasil kebijakan ini akan diterapkan selama penyelenggaraan olimpiade.
Namun Dr Krzyzanowski mengatakan WHO masih mengkhawatirkan kondisi udara di sana.[55]
Tingginya tingkat polusi di China disebabkan meningkatnya jumlah kendaraan di Beijing secara dramatis selama satu dekade terakhir. Menurut statistik, terdapat seribu mobil baru setiap hari. Berita baik untuk pengusaha otomotif,tetapi buruk untuk kualitas lingkungan Cina. Bensin bermutu rendah yang digunakan mobil-mobil ini, menyebabkan polusi udara menjadi masalah yang penting. Dalam catatan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, penduduk Beijing sekarang menghirup udara kota yang kualitasnya paling buruk di dunia.
Memasuki musim dingin, situasi menjadi lebih buruk. Pembakar batu bara menghidupi sistem pemanasan pusat di beberapa apartemen. Selama beberapa dekade, warga Beijing tinggal di samping pabrik-pabrik yang memakai batu bara sebagai bahan bakar. Cerobong asap pabrik-pabrik itu menghasilkan banyak debu dan gas belerang ke udara yang mengganggu kesehatan.[56]
Juli lalu, Financial Times melaporkan bahwa pemerintah China menyensor laporan Bank Dunia mengenai polusi di China. Naskah yang dihilangkan tentang 750,000 kematian prematur dikarenakan oleh polusi yang dianggap “terlalu sensitif dan bisa menyebabkan kerusuhan sosial.” Namun pakar lingkungan China percaya kematian dan rasio kematian di suatu area dibandingkan dengan populasi di area itu bisa lebih tinggi berdasarkan definisi luas dari polusi. Setiap tahun sekitar 300,000 bayi meninggal prematur akibat udara yang buruk.[57]
Saat ini, China bahkan telah mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara penghasil karbon dioksida terbesar. Kenyataan ini meningkatkan kegelisahan mengenai perannya dalam mendorong pemanasan global akibat tindakan manusia dan akan semakin menambah tekanan untuk mencapai kesepakatan mengenai perubahan lingkungan yang menyertai ekonomi China. Menurut statistik Badan Penilaian Lingkungan Belanda, jumlah permintaan batu bara untuk membangkitkan tenaga listrik dan peningkatan tajam produksi semen telah mendorong emisi China selama tahun 2006 melebihi jumlah yang dihasilkan oleh Amerika. China memproduksi 6.200 juta ton CO2 tahun lalu, bandingkan dengan 5.800 juga ton yang diproduksi AS.[58]
Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, China akan mengalami banyak kerugian karena pemanasan global. Baru-baru ini sejumlah ilmuwan menemukan, suhu di dataran Qinghai-Tibet yang dikenal sebagai ‘atap dunia’ meningkat. Beberapa studi mengungkap, suhu di tempat itu meningkat 0,2 derajat celcius selama 30 tahun terakhir. Meski peningkatan itu tidak banyak, dampaknya sudah terasa. Lapisan es di daerah itu meleleh, padang gurung berkurang, dan salah satu danau Cina yang besar menyusut.[59]
Selama rejim komunis berkuasa, lingkungan China semakin rusak. Penebangan hutan dilakukan serampangan, pembendungan sungai, pengurukan laut mengakibatkan lingkungan ekologi mengalami kerusakan besar. Kini ekosistem sudah diambang kehancuran akibat pemutusan aliran Sungai Hai, Sungai Huang, Sungai Huai dan pencemaran Sungai Yangtze, nadi yang menjadi sandaran hidup bangsa Tionghoa. Padang rumput di Gansu, Qinghai, Mongolia Dalam dan Xinjiang hilang, menyebabkan gulungan pasir kuning menerjang ke dataran tengah.[60] Dalam waktu dekat ini, pemerintah Beijing juga berencana untuk membangun tiga belas waduk pembangkit listrik di sungai Nu akan menggusur puluhan ribu petani dan peternak, serta merusak ekologi di wilayah Cina Barat itu.[61]
Sebelumnya pembangunan Bendungan Tiga Ngarai di sungai Yangzi menghancurkan ekologi dan lingkungan di China. Laporan Perlindungan dan Pengembangan Sungai Yangzi 2007, menyimpulkan bahwa bendungan tersebut telah memperburuk polusi di dengan memicu pertumbuhan ganggang yang cepat. Frekwensi gempa bumi tingkat rendah juga telah bertambah secara dramatis dan area tersebut telah mengalami ribuan tanah longsor. Juga diyakini telah menimbulkam kekeringan yang hebat di Chongqing, provinsi Sichuan.[62]
Tidak puas dengan menghancurkan lingkungan di dalam negeri, kini China juga melahap hutan alam atau biasa disebut hutan surgawi Indonesia. Sedikitnya 300.000 meter kubik kayu merbau asal Papua diseludupkan ke China setiap bulannya. Menjelang Olimpiade 2008, permintaan akan kayu ilegal ini semakin meningkat seiiring dengan tingginya aktivitas pembangunan sarana dan prasana Olimpiade. EIA/Telapak dalam laporannya belum lama ini menyebutkan, China sebagai negara konsumen kayu utama, seharusnya memberlakukan undang-undang pelarangan impor dan penjualan kayu, serta produk kayu yang diperoleh secara ilegal.[63]
Pada Maret tahun lalu, Greenpeace China juga menerbitkan laporan berjudul Sharing the Blame (Berbagi Kesalahan), yang mengungkap peran penguasa China dalam perusakan hutan alam. Separuh dari seluruh pohon kayu tropis yang ditebang dari berbagai penjuru dunia berakhir di China. Sebagian besar berasal dari Indonesia, dan sekitar 76-90 persen ditebang secara tak legal. Menurut laporan itu, China menjadi clearing house bagi kayu dunia, di mana setiap pohon tropis kedua yang dijual di pasar dunia dikirim ke China. Dipastikan juga China merupakan negara konsumen kayu curian yang terbesar di dunia.[64]
IX. Produknya Berbahaya
Sejak masuknya China ke WTO tahun 2001 lalu, nilai ekspor China terus meningkat. Apalagi kalau diperhitungan dengan barang-barang yang masuk ke negara lain secara ilegal. Tak heran jika produk China kini membanjiri toko-toko di seluruh dunia, dari mulai peniti, mainan anak, makanan ringan, hingga elektronik. Hampir semua kebutuhan sehari-hari warga dunia disediakan oleh produk China. Bila dibuat joke, dari semua kebutuhan kita, mulai bangun tidur sampai mau tidur, semua menggunakan produk made in China.
Membanjirnya produk China di seluruh dunia termasuk Indonesia telah mengkuatirkan sejumlah negara. Selain mengancam kelangsungan industri dalam negeri, membanjirnya produk China juga dikuatirkan akan menghilangkan ribuan bahkan jutaan lapangan kerja di negara mereka.
Selama ini perusahaan China berusaha menghemat biaya produksi untuk menciptakan produk yang murah. Namun dengan alasan menciptakan biaya produksi yang murah, segala macam cara ditempuh. Tidak masalah bagaimana mendapatkan bahan material, baik legal atau ilegal, termasuk mengabaikan keselamatan kerja, atau hal-hal lain yang seharusnya menjadi standar internasional. Selain itu, hal ylain yang dikesampingkan antara lain masalah hal kepemilikan intelektual yang tidak dilindungi. Ekspor produk bajakan ke negara lain telah menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan internasional.[65]
Dalam konteks nasional, hampir seluruh produk Cina ke Indonesia adalah produk sisa ekspor yang dijual dengan harga yang sangat murah. Akibatnya produk industri dalam negeri kalah bersaing di pasar domestik Menurut perkiraan produk sisa ekspor seperti ini jumlahnya mencapai 10 persen total ekspor Cina. “Karena size industri Cina sangat besar, mungkin 10 persen itu 200 persen total produksi Indonesia, jadinya sangat besar,” kata Komisaris Independen BCA, DR. Cyrillus Harinowo dalam suatu diskusi belum lama ini. Impor produk sisa ekspor ini, sangat mengganggu produsen Indonesia yang menggarap pasar lokal.[66]
Bukan hanya itu, kualitas dan keamanan produk China juga mulai disangsikan. Banyak kasus di sejumlah negara termasuk Indonesia, ditemukan produk China yang berbahaya bagi kesehatan. Baru-baru ini bahan kimia beracun ditemukan di produk ekspor, seperti makanan, kosmetik, obat-obatan, mainan anak, seafood, pasta gigi, makanan hewan, dan sebagainya. Hak-hak konsumen itu mendapatkan barang yang awet dan aman, dengan demikian dilanggar. Kecamanpun muncul dari dalam dan luar negeri, karena pengawasan terhadap kualitas makanan dan obat dinilai sangat lemah, sehingga dapat mengambi jiwa seseorang.
Sebuah persidangan terhadap produsen obat palsu– Qiqihar No.2 Pharmaceutical Co., Ltd di Pengadilan Rakyat Kota Guangzhou tingkat Menengah pada 8 Agustus lalu menunjukan bagaimana mudahnya mereka memproduksi barang palsu. Produsen ternyata tidak melakukan uji laboratorium, tidak memahami laporan kualitas kontrol dari vendor, tapi bisa mendapatkan sertifikasi dengan cara membelinya. Banyak perusahaan lain yang melakukan hal serupa.[67]
Akibat produk yang tidak aman, kini banyak negara yang menarik produk China dari pasaran. Kebanyakan adalah produk mainan anak, makanan, obat, dan kosmetik. Mattel Inc., perusahaan mainan terbesar AS, menarik jutaan mainan produk China dari pasaran di dunia.Di Indonesia, sejumlah produk China juga telah ditarik dari pasaran karena dianggap berbahaya.[68] Di sejumlah kota bahkan dilakukan razia terhadap produk China tersebut. BPOM sudah mengeluarkan public warning no. KH.01.04.53.094 pada 24 Juli 2007. Selama dua tahun sebelumnya, BPOM RI menemukan 27 kosmetik asal China yang berbahaya.
Terakhir BPOM telah meneliti 79 produk China berupa permen, manisan dan buah kering, dan menemukan tujuh produk dari jumlah tersebut yang positif mengandung formalin, yaitu White Rabbit Creamy Candy, Permen Kiamboy, Classic Candy, permen Blackcurrant, permen White Rabbit dan manisan plum. Selain itu juga ditemukan empat pasta gigi yang mengandung bahan dietelen glycol (bahan anti beku yang biasa dipakai pada minyak pelumas dan minyak rem). Pasta gigi tersebut bermerek Maxam Toothpaste, Green Toothpaste, Maxam Toothpaste Spirmint Biru, dan Maxam Toothpaste Mintergreen hijau.[69] Meski sudah dilarang, sejumlah produk asal Cina itu diduga masih beredar luas.
Sejauh ini, pemerintah China memang telah berjanji akan menghentikan ekspor sejumlah produknya menyusul kekhawatiran adanya bahan kimia berbahaya. “Bahan-bahan kimia berbahaya dimasukkan secara tidak patut di beberapa industri dalam proses pembuatan makanan,” ujar Dirjen Keamanan Makanan dan Minuman Cina, Sun Xianze. Saat ini, menurutnya, masih banyak industri dan pertanian di Cina yang masih menggunakan bahan kimia berbahaya. Anehnya mereka menuding media asing terlalu sensasional, bombastis dan membesar-besarkan berita.[70] Bahkan China mulai membalas melarang sejumlah produk dari negara lain masuk ke negaranya, seperti dalam kasus pelarangan seafood asal Indonesia.
X. Memaksa Aborsi
Selama ini program keluaga berencana yang diterapakan di China sejak 1979 dianggap berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduknya yang pada tahun 2005 mencapai lebih dari 1,3 miliar. Kebijakan ini membatasi jumlah anak yang bisa dimiliki pasangan di perkotaan hanya satu saja dan mengizinkan keluarga di pedesaan memiliki anak kedua jika anak pertama mereka perempuan. Dengan slogan-slogannya, ”Kurangi bayi, perbanyak babi”, “Rumah dirobohkan, sapi disita, kalau tuntutan aborsi ditolak” dan “Satu bayi lagi berarti satu kuburan lagi”, China memaksa warganya menuruti kebijakan ini. Akibat ketatnya program KB ini terjadi banyak pelangaran HAM, dan hak hidup janin diabaikan.[71]
Para pengkritik mengatakan, ketentuan tersebut menyebabkan aborsi paksa, sterilisasi, dan rasio seks yang sangat timpang akibat kecenderungan tradisional untuk mengutamakan anak laki-laki dan ini mendorong sebagian keluarga menggugurkan janin perempuan dengan harapan memperoleh bayi laki-laki. Aborsi paksa seringkali dilakukan oleh rumah sakit pemerintah, dengan korban ibu-ibu yang mengalami kehamilan di luar rencana.
Salah seorang aktivis yang menaruh perhatian pada masalah ini adalah Chen Guangchen yang baru saja terpilih sebagai salah satu dari tujuh peraih Penghargaan Magsaysay di Manila, Philipina, 31 Juli 2007 lalu. Dia dikenal sangat menentang kebijakan program keluarga berencana satu anak dalam satu keluarga di Provinsi Shandong, China Timur pada 2005 lalu yang bersifat memaksa. Jalan yang ditempuh untuk program itu bahkan dengan cara aborsi dan sterilisasi. Sebagai pegiat hukum, ia berhasil mendokumentasikan ratusan kasus pelanggaran yang dilakukan petugas KB yang memaksa perempuan untuk menempuh aborsi pada usia kehamilan tua dan sterilisasi, meski dia harus meringkuk di penjara.[72]
Lucunya, pemerintah China menggunakan alasan keinginan orang tua akan kelahiran anak laki-laki sebagai penyebab ditempuhnya cara-cara nekat untuk meneruskan silsilah keluarganya. Solusi yang diberikan adalah dirancang undang undang untuk mengatasi merebaknya aborsi janin wanita yang memicu ketidakseimbangan jumlah populasi pria dan wanita. Seorang pejabat senior China mengatakan, meski praktik menggugurkan janin perempuan telah dilarang, peraturan yang ada saat ini tidak menyebut adanya sangsi.[73] Meski melarang aborsi dan berjanji akan memperlunak kebijakan KB-nya dengan memperhalus penyampaian bahasa, dicurigai kebijakan itu sebagai pemanis menjelang Olimpiade.
[1] Pada 2001, Amnesty International mengeluarkan laporan tentang peristiwa pembantaian mahasiswa di lapangan Tiananmen, lihat http://web.amnesty.org/library/Index/ENGASA170012001
[2] Lebih lanjut tenatng isi Piagam Olimpiade bisa dilihat di http://en.beijing2008.cn/spirit/symbols/charter/
[3] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/04/070430_chinrights.shtml
[4] http://www.surabayapost.info/detail.php?cat=%206&id=58162
[5] http://en.epochtimes.com/news/7-8-10/58600.html
[6] Laporan World Evangelical Fellowship (WEF) pada Januari 2001. Christian Solidarity Worldwide juga pernah membuat laporan mengenai kebebasan agama di China pada tahun 2005, lihat: http://www.csw.org.uk/Countries/China/Resources/CSWChinaReportNovember2005.pdf
[7] https://www.kompas.com/kompascetak/0408/19/ln/1217244.htm, mengenai penyiksaan yang dilakukan oleh rejim komunis China terhadap penganut Katolik selama ini, lihat http://www.christianpersecution.info/china-archive.php
[8] http://dwelle.de/indonesia/panorama/1.176204.1.html
[9] http://www.tchrd.org/publications/annual_reports/2006/ar_2006.pdf
[10] http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/294
[11] http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=32921
[12] http://en.epochtimes.com/news/7-8-12/58687.html, lebih jauh ttentang situasi penindasan di Tibet lihat http://www.savetibet.org
[13] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2005/04/050412_chinauighur.shtml
[14] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/01/070108_chinaraid.shtml
[15] http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/192 Secara lengkap, Amnesty International telah membuat laporan mengenai pelanggaran HAM yang dialami oleh muslim Uyghur, lihat http://web.amnesty.org/library/index/engasa170212004
[16] http://www.eramuslim.com/berita/int/45c85b00.htm, lebij lengkap lagi tentang penindasan terhadap muslim Uighur bisa dilihat di website Uyghur Human Rights Project http://www.uhrp.org/
[17] Lebih jauh tentang berbagai metode penyiksaan yang dilakukan oleh polisi China untuk menyiksa praktisi Falun Gong, lihat: http://www.falundafa.or.id/ib_kasuspenyiksaan23.htm
[18] Untuk mengetahui secara lengkap hasil penyelidikan David Matis dan david Kilqour, lihat http://organharvestinvestigation.net/
[19] Selengkapnya lihat http://minghui. ca/mh/articles/ 2007/4/22/ 153257.html
[20] Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2007/7/5/158218.html English: http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2007/7/27/88035.html
[21] Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2007/7/27/159679.html, English: http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2007/8/13/88570.html
[22] http://en.epochtimes.com/news/6-12-19/49533.html
[23] http://www.faluninfo.net/displayAnArticle.asp?ID=9324
[24] http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/10/lua10.html Lebih lanjut tentang tekanan terhadap aktivis HAM lihat http://www.hrichina.org/public/index
[25] Laporan radio BBC, 3 Januari 2006 Sebulan kemudian, media investigatif Bingdian (Titik Beku) yang merupakan sisipan yang diterbitkan oleh China Youth Daily juga ditutup. Sisipan media ini dikenal dengan laporannya mengenai korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
[26] Berita ini bisa dilihat di www.erabaru.or.id
[27] Kompas, 5 Januari 2006
[28] Kompas, 19 Januari 2006
[29] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/12/061201_chinaforeign.shtml
[30] Masalah sensor di internet, bisa dilihat di website Amenesty International
[31] Loren Baker di http://www.searchenginejournal.com/, 14 Januari 2006
[32] http://web.amnesty.org/library/pdf/POL300262006ENGLISH/$File/POL3002606.pdf%206/2006
[33] Washington Post, Tuesday, August 28, 2007; Page D03
[34] http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2007/03/070322_internet4.shtml
[35] http://en.epochtimes.com/news/7-8-3/58277.html
[36] http://www.rsf.org/article.php3?id_article=23365
[37] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2004/02/040217_chinadissident.shtml
[38] http://www.vhr.web.id/home/index.php?id=view&aid=1763〈
[39] http://www2.dw-world.de/indonesia/Politik_Wirtschaft/1.212435.1.html Lihat juga China Anual Report 2007 yang dikeluarkan oleh Reporters Without Borders
[40] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2004/07/040702_cina.shtml
[41] http://en.epochtimes.com/news/7-8-12/58689.html
[42] Selama ini, siaran NTD adalah satu-satunya stasiun televisi yang tidak dapat diblokir oleh pemerintah China, sepanjang W5 menyiarkan program NTD. Pemerintah China pernah berupaya menghentikan kontrak NTDTV dengan Eutelsat (pemancar satelit Eropa). Lihat http://www.boxun.com/, 15 Maret 2005. Belakangan karena banyaknya petisi dari seluruh dunia, kontrak tersebut akhirnya diperpanjang.
[43] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2004/07/040702_cina.shtml
[44] http://www.kpi.go.id/index.php?categoryid=52&p2_articleid=404
[45] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/06/070613_chinakits.shtml
[46] http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php
[47] Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2007/6/27/157709.html
[48] Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2007/7/18/159108.html
[49] Mengenai demokrasi lokal di Taisi, lihat: http://www.asianews.it/view.php?l=en&art=4311
[50] Isi buku Sembilan Komentar (Jiuping) bisa dilihat di http://www.asianews.it/view.php?l=en&art=4311
[51] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2004/09/040915_chinareform.shtml
[52] Lihat Appeal by Amnesty International to the Chinese government on the occasion of the China-Africa Summit for Development and Cooperation: http://web.amnesty.org/library/Index/ENGAFR540722006?open&of=ENG-SDN
[53] Berita selengkapnya lihat: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/P/PEOPLE_MIA_FARROW_DARFUR?SITE=MIBAX&SECTION=HOME&TEMPLATE=DEFAULT
[54] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/22/ln/3779634.htm
[55] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070817_beijingtrial.shtml
[56] http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/302
[57] Siaram Radio Free Asia, 6 Juli 2007
[58] Sumber: http://www.guardian.co.uk/ dan http://www.broadcast-edu.or.id/index.php?ar_id=1526
[59] http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/671
[60] Baca buku Jiuping (Sembilan Komentar tentang Partai komunis): http://www.erabaru.or.id/k_01_art_91.htm
[61] http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/227
[62] Radio Free Asia, 24 Mei 2007
[63] Lihat laporan Telapak pada Maret 2007 dalam bentuk majalah yang berjudul Raksasa Dasamuka.
[64] http://www.greenpeace.org/china/en/press/release/20060328-sharing-the-blame
[65] Lihat artikel Rita Pawestri, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di: http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=40197&itemid=8
[66] http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/05/22/brk,20070522-100441,id.html
[67] http://en.epochtimes.com/news/7-8-21/58854.htm
[68] Daftar produk China yang dinyatakan berbahaya oleh BPOM bisa dilihat di websitenya http://www.pom.go.id/
[69] http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/28/sh02.html
[70] http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php
[71] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070805_chineseslogan.shtml
[72] http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/international/tujuh-peraih-magsaysay-award-diumumkan-3.html dan http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/11/061101_chinachen.shtml
[73] http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070825_chinesegender.shtml