Tibet, oh Tibet (Photos)

tibet01Tibet adalah tempat yang indah dan menakjubkan. Ia berdiri di atap dunia, di daratan tinggi Qinghai-Tibet. Dengan langit biru dan daratan yang indah, puncak-puncak berselaput es yang mengesankan, rangkaian pegunungan bersalju, danau-danau safir tersebar di mana-mana, padang rumput hijau membentang di cakrawala, dihiasi lembu-lembu yak dan domba-domba, laksana berjalan ke dalam gulungan lukisan yang maha besar. Cahaya di padang rumput begitu murni dan cerah. Warnanya yang cerah dan kaya tersebar dengan perasaan bocah-bocah tak bersalah. Ia adalah alam impian.

Orang-orang Tibet penuh rasa hormat dan cinta terhadap alam. Mereka berlutut memuja gunung-gunung dan danau suci. Mereka menahan udara tipis dan dingin dan bekerja keras. Mereka minum teh mentega dan mengamati bendera angin warna-warni serta syal sutra putih bersih tak bernoda yang berkibar-kibar diterpa angin. Mereka melantunkan lagu-lagu pedesaan yang menggema dan menari dengan pakaian berlengan panjang. Senyum mereka yang sederhana terlihat dari wajah mereka yang kemerahan. Kepribadian mereka ramah dan toleran.

Istana Potala dan Kuil Jokhang, dengan selang-seling warna merah putih, tinggi menjulang di puncak gunung, adalah tempat suci orang-orang Tibet. Menjadi umat Buddha, orang-orang Tibet meneruskan ziarah sebagai upaya memperpanjang hidup mereka. Berziarah ke kota suci Lasha adalah hal yang teramat penting dalam hidup mereka.

Orang-orang dengan tiada hentinya terus berziarah sepanjang tahun. Puluhan ribu orang-orang Tibet, memusat ke dalam arus besar dari pedesaan, berbaris menuju Lasha perlahan-lahan dan pasti. Pria dan wanita, tua dan muda, menempuh perjalanan jauh dengan bersusah payah. Mereka menggunakan badan mereka untuk mengukur jarak ke kuil-kuil suci: mereka menekankan telapak tangan dengan tulus bersamaan melewati kepala dan merangkak dengan seluruh tubuh dan tangan mereka terbentang serta dahi menyentuh bumi. Mereka mengulangi masing-masing langkah lebih dari ratusan ribu kali dan menahan kesengsaraan yang tak terhingga. Semangat mereka yang tulus, tegar, dan kokoh mengejutkan dan menggerakkan hati orang-orang.

Kuil-kuil berdiri begitu banyaknya. Bendera beraneka warna menari-nari di tengah angin. Orang-orang acap kali melihat wanita tua berambut uban memutar sebuah tabung dengan sutera di dalamnya dan para Lama dengan jubah merah melantunkan sutera-sutera dan berdoa. Kenyamanan dan kedamaian memenuhi udara. Segala pikiran kacau dan keluh kesah telah tersaring lenyap. Orang-orang menjadi rileks dan tenang. Langit dan bumi begitu berdekatan. Manusia dan dewa terhubungkan.

Tibet, keindahan yang bergetar itu membuat orang-orang yang tak terhitung jumlahnya kehilangan diri mereka dalam lamunan. Tibet, adalah gaya hidup lain yang mencerminkan kenyataan misterius kuno. Keindahannya kini tengah dihancurkan oleh perdagangan secara kejam dan dikoyak-koyak oleh polusi. Politik telah menindas dan menyimpangkan keyakinan orang-orang. Setiap orang yang mencintai Tibet merasakan kepedihan. Kini orang-orang di seluruh dunia sedang memperhatikan tembakan-tembakan riang dari para polisi China. Tibet, oh Tibet, kami berdoa untukmu.

English : http://www.pureinsight.org/pi/index.php?news=5308

Chinese : http://www.secretchina.com/news/237336.html

Tinggalkan Balasan