Reporters Without Borders, 23 Agustus 2007
CHINA – Reporters Without Borders terkejut oleh penahanan pemrotes cyber dan blogger He Weihua dalam rumah sakit jiwa di provinsi pusat Hunan tanpa kemauannya. Anggota keluarga yang diwawancari oleh Reporters Without Borders menyangkal bahwa dia memiliki penyakit mental dan mengatakan bahwa mereka pikir penahanannya itu berhubungan dengan apa yang telah ia postingkan pada blog-nya, www.boxun/hero/hewh/.
“Ini tidak dapat diterima bahwa pemerintah China menggunakan cara-cara seperti itu untuk membungkam rakyatnya yang sekedar mengekspresikan pandangan-padangannya dengan damai secara online,” kata organisasi kebebasan pers tersebut. “Kami mengunjungi pemerintah pusat untuk berdialog dengan pemerintah Hunan guna mendapatkan kebebasannya. Bagaimana mungkin pemerintah mengharapkan kita untuk percaya bahwa seorang berpenyakit mental mampu mengelola laporan investigasi yang terperinci?
Reporters Without Borders menambahkan: “Kami khawatir kasus ini menunjukkan bahwa pemerintah China masih belum meninggalkan penggunaan hukuman psikiatri terhadap mereka yang mengekspos pelanggaran-pelanggaran dan menentang penyensoran.”
Ia dikurung tanpa kemauannya oleh pemerintah Hunan awal bulan ini setelah ia mempostingkan sebuah artikel di situs Boxun yang mengkritik peningkatan harga daging babi yang keterlaluan oleh pemerintah provinsi tersebut. Ia juga meramalkan keruntuhan Partai Komunis dalam waktu dekat yang disebabkan oleh korupsi internal. Ia menerima sebuah panggilan pengadilan dari Biro Keamanan Umum setelah artikel tersebut dipostingkan pada bulan Juli lalu.
Satu unit Keamanan Negara sebelumnya telah menggerebek dan mencari rumahnya di Hengyang (di provinsi Hunan) pada bulan Juni, mengambil komputer laptop-nya dan memperingatkan dia bahwa dia akan menderita konsekwensi yang mengerikan bila ia terus menulis tentang HAM. Blog-nya http://www.boxun.com/hero/hewh berisikan banyak laporan investigasi dan komentar-komentar kritik terhadap pemerintah.
Ketika dihubungi oleh Radio Free Asia, ibunya tidak mau berkomentar tentang penahanannya, mengindikasikan bahwa ia (ibunya) berpikir teleponnya telah disadap. Ia hanya berkata: “Dia berada di rumah sakit jiwa. Ia pergi ke sana bulan ini.” Namun seorang keluarga yang dihubungi oleh Reporters Without Borders menghubungkan pengurungannya itu dengan artikelnya: “Ia telah menulis banyak artikel mengenai HAM, khususnya di Boxun. Saya pikir ia memiliki segala kualitas seorang yang berpikiran jernih.”
Ini bukanlah pertama kalinya ia ditahan. Para anggota Biro Keamanan Negara telah memberikan suntikan tanpa kemauannya ketika ia ditempatkan di rumah sakit jiwa pada bulan Desember 2004. Ketika ia diberhentikan oleh sebuah sepeda motor di bulan September 2006, pengendara itu memperingatkan dia untuk tidak meneruskan aktifitas HAM-nya.
Untuk melihat berita versi Bahasa Inggris, silakan klik di sini